Sabtu, 03 Oktober 2026

BAHAYANYA PLASTIK part 1

 

Penanganan limbah plastic

Plastik saat ini menjadi topic utama bila kita membicarakan lingkungan. Mengapa plastic? Dari hasil beberapa penelitian bahwa plastic menjadi bahan yang tidak bisa berbaur dengan lingkungan, tanah, air maupun lautan. Organisme di daratan maupun diperairan dapat terancam akibat terbelit, sesak napas, maupun termakan oleh plastik.

Berbicara mengenai plastik tidak hanya sebatas kantong plastic, tapi keseluruhan peralatan yang terbuat dari plastic.  Plastik dan turunannya yang sudah tidak terpakai menjadi limbah plastik yang sangat berbahaya untuk satwa liar, khususnya di laut.  Untuk di lautan, secara fisikal dengan adanya sinar matahari, oksigen dan ombak, plastik dapat menjadi bagian terkecil, yaitu mikroplastik yang sangat berbahaya bagi makhluk hidup di lautan.. Micro plastic inipun menjadi bahan beracun terutama bila tercampur dengan bahan makanan atau minuman bagi manusia atau makhluk hidup di daratan.  Dan pada kenyataanya micro plastic ini pun sudah termakan oleh manusia.

Dari hasil penelitian World Wild Fund Indonesia (WWFIndonesia) menyebutkan bahwa sebanyak 25 persen spesies ikan laut telah mengandung bahan mikroplastik, dimana bahan tersebut berasal dari sampah plastik di lautan.  Mikroplastik adalah partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm dan dapat dikonsumsi plankton sebagai salah satu makanan utama ikan. Udara yang kita hirup saat ini telah mengandung partikel mikroplastik, begitu juga tanah hingga makanan kita

Mengapa manusia lebih cenderung memilih plastic dalam keperluan hariannya? Karena plastic bersifat fleksibell dan membuat pekerjaan menjadi lebih mudah serta cepat. Bila kita perhatikan dalam setiap kegiatan pasti ada bagian yang dari plastik. Plastik juga menggantikan barang-barang yang tadinya berasal dari alam. Plastic merupakan produk polimerisasi sintetik atau semi sintetik dari polimer karbon atau dengan oksigen, nitrogen, hydrogen, nitrogen clhorine atau belerang dengan hasil yang murah, kuat, mudah diperoleh, dan tahan lama. Dari hasil pemanasan dan tekanan yang tinggi maka plastik akan terbentuk. Teknologi pembuatan plastik berkembang semakin maju setelah adanya statement dari perusahaan Novomer pada Bulan Desember tahun 2009, bahwa saatnya periode komersialisasi plastic.

Dampak dari komersialisasi plastic adalah bila barang tersebut sudah tidak terpakai maka limbah plastic akan semakin banyak dan penanganana memerlukan waktu yang lama untuk terurai. Indonesia sudah dalam kondisi darurat plastic, dimana pertambahannya per tahun sangat signifikan.

Forum Ekonomi Dunia  (World Economy Forum) pun pada sidang Bulan JUli tahun 2020 mengatakan ada sekitar 150 juta ton sampah plastik berada di perairan dunia. Pertumbuhannya pun tak kalah hebat, mencapai 8 juta ton per tahunnya.

Sampah plastik di lautan juga menjadi masalah bagi Indonesia. Kita tentu masih ingat dengan penemuan bangkai paus sperma (Physeter macrocephalus) di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 18 November 2018. Bangkai ikan bernama lain paus kepala kotak itu kemudian dienkropsi. Hasilnya sungguh mengejutkan karena dari dalam perutnya ditemukan ratusan sampah plastik berbagai jenis seberat total 5,9 kilogram.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar