Penanganan limbah plastic
Plastik saat ini menjadi topic utama bila kita
membicarakan lingkungan. Mengapa plastic? Dari hasil beberapa penelitian bahwa
plastic menjadi bahan yang tidak bisa berbaur dengan lingkungan, tanah, air
maupun lautan. Organisme di daratan
maupun diperairan dapat terancam akibat terbelit, sesak napas, maupun termakan
oleh plastik.
Berbicara mengenai plastik tidak hanya sebatas
kantong plastic, tapi keseluruhan peralatan yang terbuat dari plastic. Plastik
dan turunannya yang sudah tidak terpakai menjadi limbah plastik yang sangat
berbahaya untuk satwa liar, khususnya di laut. Untuk di lautan, secara fisikal dengan adanya sinar matahari, oksigen dan
ombak, plastik dapat menjadi bagian terkecil, yaitu mikroplastik yang sangat
berbahaya bagi makhluk hidup di lautan.. Micro plastic inipun menjadi
bahan beracun terutama bila tercampur dengan bahan makanan atau minuman bagi
manusia atau makhluk hidup di daratan. Dan pada kenyataanya micro plastic ini pun
sudah termakan oleh manusia.
Dari hasil penelitian World Wild Fund Indonesia
(WWFIndonesia) menyebutkan bahwa sebanyak 25 persen spesies ikan laut telah
mengandung bahan mikroplastik, dimana bahan tersebut berasal dari sampah
plastik di lautan. Mikroplastik adalah
partikel plastik berukuran kurang dari 5 mm dan dapat dikonsumsi plankton
sebagai salah satu makanan utama ikan. Udara yang kita
hirup saat ini telah mengandung partikel mikroplastik, begitu juga tanah hingga
makanan kita
Mengapa manusia lebih cenderung memilih
plastic dalam keperluan hariannya? Karena plastic bersifat fleksibell dan membuat
pekerjaan menjadi lebih mudah serta cepat. Bila kita perhatikan dalam setiap
kegiatan pasti ada bagian yang dari plastik. Plastik juga menggantikan barang-barang
yang tadinya berasal dari alam. Plastic merupakan produk polimerisasi sintetik atau semi sintetik dari polimer
karbon atau dengan oksigen, nitrogen, hydrogen, nitrogen clhorine atau belerang
dengan hasil yang murah,
kuat, mudah diperoleh, dan tahan lama. Dari hasil pemanasan dan tekanan yang tinggi maka plastik akan
terbentuk. Teknologi pembuatan plastik berkembang semakin maju setelah
adanya statement dari perusahaan
Novomer pada Bulan Desember tahun 2009, bahwa saatnya periode komersialisasi
plastic.
Dampak dari komersialisasi plastic adalah bila
barang tersebut sudah tidak terpakai maka limbah plastic akan semakin banyak
dan penanganana memerlukan waktu yang lama untuk terurai. Indonesia sudah dalam
kondisi darurat plastic, dimana pertambahannya per tahun sangat signifikan.
Forum Ekonomi Dunia (World Economy Forum) pun pada sidang Bulan JUli tahun 2020 mengatakan ada sekitar 150 juta
ton sampah plastik berada di perairan dunia. Pertumbuhannya pun tak kalah
hebat, mencapai 8 juta ton per tahunnya.
Sampah plastik di lautan juga
menjadi masalah bagi Indonesia. Kita tentu masih ingat dengan penemuan bangkai
paus sperma (Physeter macrocephalus) di perairan Pulau Kapota,
Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 18 November 2018. Bangkai ikan
bernama lain paus kepala kotak itu kemudian dienkropsi. Hasilnya sungguh
mengejutkan karena dari dalam perutnya ditemukan ratusan sampah plastik
berbagai jenis seberat total 5,9 kilogram.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar